KOMPOSISI VEGETASI MANGROVE DI TELUK BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Warsidi dan Sri Endayani

Abstract


Komposisi Vegetasi Mangrove di Teluk Balikpapan  provinsi Kalimantan  Timur. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui Komposisi vegetasi mangrove yang terdapat di Teluk Balikpapan.

Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode pengambilan contoh berlapis (stratified sampling) secara sistematik (stratified systematic sampling).  Plot pengambilan contoh berbentuk linear yang terdiri dari subplot berbentuk lingkaran yang tersusun tegak lurus dengan garis pinggir hutan mangrove. Di dalam subplot tersebut dilakukan pengukuran untuk diameter dan tinggi pohon serta identifikasi jenis pohon yang diukur. Plot berbentuk lingkaran dengan diameter lingkaran  14 meter untuk menginventarisasi pohon,  dan lingkaran yang lebih kecil dengan diameter 2 meter untuk menginventarisasi semai dan pancang. Data yang didapat kemudian di analisis untuk menentukan Indek Nilai Penting Jenis (INP) dari tingkat semai, pancang dan pohon.

Hasil penelitian adalah tingkat semai di Teluk Balikpapan tercatat ada 13 jenis dengan pola persebaran dan kepadatan yang berbeda berdasarkan Indeks Nilai Pentingnya, Rhizophora apiculata adalah yang paling tinggi yaitu 81,63%. Pada tingkat pancang, jumlah jenis tumbuhan mangrove yang ditemukan di Teluk Balikpapan tercatat berjumlah 15 jenis, INP terbesar dimiliki oleh jenis Rhizophora apiculata (168,71%). Di hutan mangrove Teluk Balikpapan hanya ditemukan 10 jenis tumbuhan mangrove pada tingkat pohon, INP terbesar dimiliki oleh jenis Rhizophora apiculata (177,63%).


Keywords


Komposisi, vegetasi, Mangrove

Full Text:

PDF DOC

References


Anwar, C., dan H. Gunawan. 2006. Peran Ekologis dan Sosial Ekonomis Hutan Mangrove Dalam Mendukung Pembangunan Wilayah Pesisir. Peneliti Pada Kelti Konservasi Sumberdaya Alam Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Bogor. Bogor.

Bengen, D.G. 2002. Pengenalan dan pengelolaan ekosistem mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. 58 hal.

Donato, dkk. 2011. Protocols for The Measurement, Monitoring and Reporting of Structure, biomass and Carbon Stocks in Mangrove Forests.

FAO. 2007. The World’s Mangroves 1980–2005. Forest Resources Assessment Working Paper No. 153. Food and Agriculture Organization of The United Nations. Rome.

Irwanto. 2006. Keanekaragaman Fauna Pada Habitat Mangrove. www.irwantoshut.com. Diakses tanggal 10 Januari 2014.

Kementerian Lingkungan Hidup. (2004). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 201 Tahun 2004 tentang kriteria baku dan pedoman penetuan kerusakan mangrove. Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup.

Kusmana, C., S. Wilarso, I. Hilwan, P. Pamoengkas, C. Wibowo, T. Tiryana, A. Triswanto, Yunasfi dan Hamzah. 2003. Teknik Rehabilitasi Mangrove. Fukultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lalenoh, R.P. 1978. Suatu Studi Perbandingan Ketelitian Penggunaan Petak Ukur Lingkaran dan Jalur Dengan Cara Pengambilan Contoh Sistematik Pada Kawasan Hutan Lindung Gunung Meja Manokwari. Fakultas Pertanian Peternakan dan Kehutanan, Universitas Cendrawasih. Manokwari.

Nauw. F.H. (2012). Komposisi dan Stuktur Vegetasi Hutan Mangrove di Desa Kumu Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa.

Noor, Y.R., M. Khazali, dan I.N.N. Suryadiputra. 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Wetland International Indonesia Programme. Bogor.

Siahaan, O.P. 2012. Perbandingan Unit Contoh Lingkaran dan Tree Sampling Dalam Menduga Potensi Tegakan Hutan Tanaman Rakyat Pinus.




DOI: https://doi.org/10.31293/af.v16i1.2598

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 AGRIFOR

Agrifor ISSN ONLINE APRIL 2016 : 2503-4960

Creative Commons License
AGRIFOR : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.