IKLIM MIKRO TIGA PENGGUNAAN LAHAN BERBEDADI KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Karyati Karyati, Nurul Kamila Assholihat, Muhammad Syafrudin

Abstract


Penggunaan lahan berbedamenyebabkan perbedaan karakteristik iklim mikro di tempat tersebut.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik beberapa unsur cuaca (intensitas cahaya matahari, suhu udara, dan kelembaban udara relatif) dan menghitung indeks kenyamanan (Temperature Humidity Index, THI)pada tiga penggunaan lahan berbeda. Intensitas cahaya matahari rata-rata sebesar 16,6 lux di hutan sekunder muda, 594,8 lux di pemukiman penduduk, dan 830,4 lux di lahan terbuka. Suhu udara rata-rata paling kecil diukur dihutan sekunder muda (27,7°C), diikuti di pemukiman penduduk (28,7°C) danlahan terbuka (29,8°C). Kelembaban udara relatif rata-rata dihutan sekunder muda, pemukiman penduduk, dan lahan terbukamasing masing sebesar 77,7%, 71,9%, dan 68,8%.Indeks kenyamanan di hutan sekunder muda (26,47) dan pemukiman penduduk (26,99) tergolong nyaman, sedangkan lahan terbuka(27,90) tergolong tidak nyaman.

Keywords


Cuaca, hutan sekunder, iklim mikro, indeks kenyamanan, pemukiman penduduk

Full Text:

DOC PDF

References


Arifin, M. (1993). Pengaruh Kebakaran Hutan Terhadap Beberapa Aspek Hidrologis dan Mikroklimat di Taman Bukit Soeharo. Proyek Peningkatan Perguruan Tinggi. Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman.Samarinda.

Biantary, M.P. (2003). Studi Tentang Hutan Kota Sebagai Pengatur Iklim Mikro di Wilayah Kota Samarinda Kalimantan Timur. Tesis. Program Studi Magister Ilmu Kehutanan. Program Pasca Sarjana Universitas Mulawarman. Samarinda. (Tidak Dipublikasikan).

Dwiyono. (2009). Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat. Surakarta: UNS Press.

Frick, H. Dan Suskiyanto, F.X.B. (1998). Dasar-dasar Eko-Arsitektur. Yogyakarta: Kanisius.

Hidayati. (2001). Masalah Perubahan Iklim di Indonesia. Program Pasca Sarjana/S-3. Insitut Pertanian Bogor. Bogor.

Karyati, Ardianto, S. dan Syafrudin, M. (2016). Fluktuasi Iklim Mikro di Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Agrifor, XV(1): 83-92.

Lakitan, B. (1994). Dasar-dasar Klimatologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Laurie, M. (1986). Pengantar Kepada Arsitektur Pertamanan. Bandung: Intermatra.

Murdiyarso, D. dan Suharsono, H. (1992). Peanan Hutan Kota dalam Pengendalian Iklim Kota. Sejuta Pohon untuk Perbaikan Iklim Kota. Prosiding Seminar Sehari Iklim Perkotaan. PERHIMPI. Bogor. Hal: 61-72.

Nieuwolt, S. (1975). Tropical Climatology, An Introduction to the Climates of the Low Latitudes. New York: John Wiley & Sons.

Pudjiharta, A. dan Pramono, I.B. (1989). Pengaruh Hutan Alam Terhadap Unsur Iklim Mikro di Yanlapa, Jawa Barat. Buletin Penelitian Hutan, 519:1-10.

Putri, R.O., Karyati, dan Syafrudin, M. (2018). Iklim Mikro Lahan Revegetasi Pasca Tambang di PT Adimitra Baratama Nusantara, Provinsi Kalimantan Timur. Ulin, 2(1): 26-34

Sabaruddin, L. (2012). Agroklimatologi Aspek-aspek Klimatik untuk Sistem Budidaya Tanaman. Bandung: Alfabeta.

Sugiasih, (2013). Rumus Indeks Ketidaknyamanan Suatu Wilayah. Fourier, 2(1): 24–33.

Utomo. (2009). Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Jakarta: Bumi Aksara.




DOI: https://doi.org/10.31293/af.v19i1.4576

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 AGRIFOR

Agrifor ISSN ONLINE APRIL 2016 : 2503-4960

Creative Commons License
AGRIFOR : Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.