PENANGGULANGAN BANJIR PADA KOTA SAMARINDA

ALPIAN NUR

Abstract


Samarinda merupakan Ibu Kota Propinsi Kalimantan Timur. Secara geografis letak Kota Samarinda sangat strategis, karena menjadi titik simpul kota/kabupaten di sekitarnya, yaitu : Tenggarong, Bontang dan Sangata. Samarinda menjadi titik sentral jalur transportasi darat, laut dan udara, sehingga menjadikan Samarinda sebagai kota jasa, industri perdagangan dan pemukiman yang berwawasan lingkungan.

Sebagai ibukota derasnya urbanisasi dan migrasi dari daerah lain telah memacu perkembangan pemukiman yang cenderung menyimpang dari konsep pembangunan yang berkelanjutan. Banyaknya kawasan-kawasan rendah (rawa, danau) yang semula berfungsi sebagai tempat penampung air serta bantaran sungai yang berubah menjadi pemukiman, ditambah dengan kebiasaan masyarakat yang membuang sampah ke sungai makin memperburuk kondisi ini.

Berkurangnya lahan-lahan atau dapat mengurangi kualitas dan kuantitas infiltrasi air hujan yang jatuh rutin semusim sekali. Langsung maupun tidak langsung, cepat atau lambat, pengaruh perubahan siklus hidrologi ini berdampak pada kondisi lingkungan dan kenyamanan tinggal khususnya di daerah perkotaan. Dari hal tersebut bencana banjir sulit dihindari apabila tidak diatasi baik  jangka pendek maupun jangka panjang  tidak menutup kemungkinan banjir dapat menggenangi seluruh Samarinda tidak terkecuali daerah yang selama ini disebut daerah bebas banjir.

Pembahasan diarahkan kepada Penanganan pada kondisi jaringan drainase jalan Wahid Hasyim dan sekitarnya dan membandingkan biaya dan waktu metode konstruksi beton setempat dan precast.

Pengumpulan data berupa data curah hujan 10 tahun terakhir, data penduduk 10 tahun terakhir dan data jaringan drainase existing, dan daftar harga satuan HSBG Pemerintah Kota Samarinda tahun 2010 dan Analisa Bina Marga. Teknik Pengolahan Data menghitung Debit Air Rencana, Debit Air untuk prediksi tahun 2015, perbandingan Rencana Anggaran Biaya dan waktu antara precast dan beton setempat.

Hasil Analisis penelitian menunjukan bahwa beberapa dimensi saluran existing tidak mencukupi debit air prediksi 2015 dan perlu perbaikan untuk dimensi salurannya selanjutnya. Hasil perhitungan menunjukan perbaikan dimensi saluran yang dapat mencukupi debit air prediksi 2015 dengan memperbandingkan metode konstruksi antara precast dan beton setempat dalam hal biaya dan waktu, biaya precast Rp. 5.824.710.000,- dengan total waktu pengerjaan 30 hari sedangkan biaya cor beton setempat Rp. 4.434.700.000,- dengan total waktu pengerjaan 50 hari.


Keywords


Dimensi Saluran, Debit Air, Rencana Anggaran Biaya dan Waktu Pelaksanaan

Full Text:

doc doc

References


Arsyad, Sintanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air, Bogor: IPB Press.

Atidak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Aliran Sungai, Yogyakarta Penerbit Gadjah Mada University Press.

Bisi, M. 2008. Konservasi Air Dalam Perencanaan Ruang, Samarinda: Penerbit Tirta Media.

Chow, Ven Te. 1997. Hidroulika Saluran Terbuka. Jakarta: Penerbit Erlangga

.

Soemarto, CD. 1986. Hidrologi Teknik. Usaha Nasional. Surabaya.

Soewarno. 1991. Pengukuran dan Pengolahan Data Aliran Sungai (Hidrometri). Penerbit NOVA. Bandung.

Soewarno. 1995. Hidrologi, Aplikasi Metode Statistik Usaha Analisa Data Jilid II. Penerbit NOVA. Bandung.

Sosrodarsono, Takeda. 1980. Hidrologi untuk Perencanaan Bangunan Air. Bandung: Penerbit Idea Dharma.

Suhardjono. 1984. Drainase Perkotaan. Samarinda: UPT Fakultas Teknik Brawijaya.

Suripin. 2003. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: Penerbit ANDI.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.